Embun pagi menetes di atas sekawanan daun segar
berwarna hijau yang membuat mata tak bisa berpaling, membuka pagi yang cerah
setelah malam penuh kegelapan, badai disertai dengan hujan dan petir yang
sangat membuat bergidik. Sebuah rumah besar di wilayah jalan Diponegoro, di
daerah Petala Bumi di isi oleh keluarga yang sangat bahagia dan sangat
harmonis, di kepalai oleh seorang pengusaha kaya dan religious bernama Ir. Budi
Santoso M.Sc, didampingi oleh nyonya Rahmi Triani Santoso S.Sos dan dimeriahkan
oleh 2 orang anaknya yang bernama Reno dan Gita. “Reno, Gita, bangun, sudah jam
5, waktunya Shalat Subuh! Dan siap siap untuk sekolah!” panggil ibunya ke anak
anaknya yang sedang tidur terlelap mengarungi dunia abstrak penuh mimpi. “Iya
bu, Gita sudah bangun ini mau mengambil air untuk berwudhu”,”Mana abangmu,
Reno?masih tidur?tolong ketukin pintu kamarnya ya dek gita, biar kita bisa
shalat subuh berjamaah, ayah sudah menunggu dibawah”. Gita mengetuk pintu kamar
Reno tetapi Reno tidak mau shalat Karena dia ngantuk setelah pulang larut malam
dan tidak diketahui orang tuanya. Ya begitulah, laki laki yang dulunya sholeh
dan rajin shalat, kini berubah drastis menjadi pemalas dan tidak mentaati
agama.
Sebelum menginjak kelas 3 SMA, Reno adalah sosok anak
yang mempunyai jiwa kepemimpinan yang besar, religious, aktif dalam segala
bidang dan juga bintang kelas, Reno merupakan salah satu anak paling pintar di
sekolah. Setiap harinya, selalu ada ajakan “Ren, nanti sore kita belajar sama
sama yuk, ajarin aku ini ya, aku belum mengerti sama sekali tentang materi
ini”, selalu ada ajakan seperti itu dari teman temannya. Reno juga merupakan
ketua dari ekskul pecinta alam dan sering membawa timnya untuk memanjat tebing
di berbagai daerah di Indonesia. Cerita perubahan garis kehidupan Reno dimulai
ketika dia bersama timnya pergi memanjat tebing di salah satu pegunungan di
Sumatra Utara untuk mendapati rekor pemanjat tebing termuda.
Dan ketika
sedang berjalan di tepi jurang yang tidak tinggi, Gempa menggoncang mereka,
Reno bersama timnya terjatuh kebawah dan terperangkap bebatuan longsor dan
untungnya tidak menghimpit mereka. Mencari cara agar keluar dari runtuhan
bebatuan besar itu, dan pergi dari daerah yang sedang longsor agar tidak
terhimpit bebatuan besar yang jatuh berikutnya. “Gimana nih Ren, kita harus
keluar dari sini secepatnya” kata teman dekatnya sekaligus wakil ketua ekskul,
Gino. “Iya, aku sedang mencari cara…Kita coba angkat batu paling atas ini sama
sama, dan segera kita keluar”.”Betul juga kata kata Reno, ayo kita angkat sama
sama mumpung kita sekarang ber sepuluh, dan beban ini rasanya terasa lebih
ringan” kata Roy. Setelah mereka mengangkatnya, jalan keluar sudah terbuka, dan
satu persatu mereka memanjat batu yang besar tadi agar keluar, dan Reno
berencana untuk keluar lebih akhir agar anggota anggotanya aman. Tiba tiba,
gempa kedua menyusul dan terdengar suara bebatuan mulai longsor lagi. “Ada
gempa kedua, kau cepat keluar dari sini no, biar aku yang terakhir keluar dari
sini”, “ tidak bisa, kalau kita keluar bersama, memakan waktu yang lama, dan
kalau aku yang keluar dari sini kau terperangkap, tidak ada yang bisa memimpin
ekskul ini selain kau ren, makanya kau saja yang keluar, biar aku disini
menunggu bantuan lain dari kalian jika menemukan orang” dan Reno pun keluar
dari bebatuan besar itu setelah dipaksa oleh Gino, tetapi, Allah berkehendak
lain, dan pada saat Gino mau keluar dari bebatuan, ada bebatuan besar dari atas
menimpanya dan mengenai kepala Gino dahulu, mengeluarkan banyak darah, dan Gino
tertimpa bebatuan itu, badannya terhimpit setengah.”gino!”,”Reno, tolong
teruskan perjalanan tim kita sampai akhir, dapatin rekor itu ren, kalian bisa
tanpa aku, aku tidak bisa keluar lagi dari sini, kepalaku pusing dan tubuhku
mati rasa, seepertinya hidupku tidak akan lama lagi”.”Maafkan aku Gino, maafkan
aku..Aku akan mendapati rekor itu”..Setelah itu, Reno dan teman temannya
melanjutkan perjalanannya dan mendapati rekor itu, Reno sangat berduka, tetapi
musibah menimpanya, teman temannya menyalahkan Reno atas kematian Gino, sejak
saat itu disekolah, Reno selalu saja di salahkan, dituduh sebagai pembunuh dan
senang atas kematian Gino karena posisinya kemarin sempat terancam sebagai
ketua.
Sejak saat itu, Reno mulai stress, keluar dari ekskul
pecinta alam. Setiap hari selalu di hina teman temannya, ayah dan ibunya Reno
menawarkan untuk pindah sekolah, tetapi dia tetap saja dihantui oleh kematian
sahabatnya, Gino. Suatu hari, di sekolah, Reno sedang duduk sendiri ketika
teman temannya shalat, Reno tidak shalat, dan dia didatangi oleh salah satu
teman dekatnya,seorang gadis yang bernama Tita. “Kamu tidak shalat
ren?”,”Enggak, untuk apa aku beribadah tetapi masalah aku tidak hilang
hilangnya di dunia ini”. “ Astaghfirullah, istighfar Ren, kamu dulu tidak
begini, aku mengerti, semenjak kematian Gino kamu berubah, tetapi cobalah kamu
beribadah lagi kepada Allah, pasti kamu akan mendapatkan ketenangan”,”Diam kamu
Ta! Kamu jangan sok tau dan sok pintar menasehati aku! Aku tau perbuatanku jadi
kamu tidak usah menasehatiku!”. Tita terkejut akan sikap Reno yang seperti itu,
dan pergi meninggalkan Reno, tetapi usaha Tita untuk kembali mengubah Reno
tidak pudar, dan ketika jam pelajaran, Tita melihat Reno keluar kelas dan pergi
ke belakang WC, Tita mengejarnya, dan ia dapati Reno sedang merokok sendirian.
“Astaghfirullah Reno, sejak kapan kamu mulai merokok, kamu tau kan itu tidak
sehat, dan kenapa kamu tidak belajar?”, “heh, Tita, sudah berapa kali aku
bilang padamu, jangan menasehati aku, aku muak belajar, aku muak dengan orang
orang dikelas yang tidak henti hentinya memojoki aku, sudahlah!kamu hanya
menggangguku, tidak ada yang peduli dan tidak ada yang senang denganku lagi di
dunia ini, bahkan Allah sudah tidak sayang kepadaku,kamu hanya merusak mood
merokok ku saja” Reno mencampaki rokoknya dan pergi kekelas, Tita hanya bisa
diam. Tita ingin agar sahabatnya itu berubah lagi, tertawa lagi, ia mencari
cara dan berencana sepulang sekolah untuk menemui Ibu Rahmi, ibunya Reno.
Sepulang sekolah, Reno tidak langsung pulang
melainkan pergi ke salah satu cafĂ© dan merenung…berfikir kenapa hidupnya bisa
berubah seperti itu. Bisa dilihat air matanya mengalir lembut di pipinya dan
membasahi rokok yang di hisapnya, langsung di hapusnya air matanya dengan
bajunya, kemudian Reno mendadak emosi dan memesan satu kaleng bir,dia mabuk….Di
rumah Reno, Tita sedang berbicara dengan ibu Rahmi.”Tante, Tita kesini, mau
bicara dengan tante, tentang Reno, Tita tau tante sudah menyadari perubahan
Reno akhir akhir ini”,”Iya Tita, tante juga sudah lama tau masalahnya, tante
tidak bisa memikirkan apa yang harus tante lakukan untuk membuat Reno kembali
seperti dulu, Tita bisa bantu tante?”,”Tita sudah berusaha juga tante disekolah
bicara dengan Reno, tapi Reno tidak mau mendengarkan.Sebisa mungkin Tita bantu
tante.”,”Iya Tita, tante juga bingung, akhir akhir ini, Reno dan ayahnya sering
bertengkar keras dirumah, Reno belum pernah melawan Ayahnya, dan kemarin tante
milhat Reno membentak ayahnya, dan pergi keluar dari rumah, semenjak itu,
mereka belum ada berbicara dirumah”.”Bagaimana kalau tante tanyakan langsung
dan coba lagi berbicara ke Reno tante, Tita rasa, hanya omongan ibu yang bisa
melunakkan anaknya, Tita juga bantu tante disekolah”. Tita pun pergi dari rumah
itu, dan Ibu Reno merasa bebannya dikurangi karena ada bantuan Tita.
Malam hari, Reno baru pulang. “Hai kak, darimana saja
kak?kok baru pulang? Bantuin Gita dong kak, ngerjain PR fisika”, “Diam Git, aku
lagi tidak enak hati, bukan urusan kamu mau tau kakak darimana”.”Kakak kok
ngomongnya gitu sih?kakak benar benar berubah, aku tidak kenal kakak yang
seperti ini”. Tamparan melayang ke pipinya Gita, Reno emosi, Reno menjadi panas
dan tidak tau apa yang dilakukannya, Gita menangis dan terjatuh, Rumah mereka
ribut, dan ayahnya Reno marah ketika Reno menampar adiknya.”Reno, kau
kenapa?istighfar Reno,Astaghfirullah…”, “Ayah diam saja, tidak usah menasehati
Reno, tidak ada lagi yang sayang dan peduli sama Reno”. Mendengar kata kata
Reno, Pak Budi pun menampar Reno dengan keras, Reno terdiam, dan lari menuju
kamarnya, Ayahnya terduduk di sofa, sementara ibu Rahmi membangunkan Gita yang
terjatuh karena ulah Reno. Setelah itu, Ibu Rahmi pergi dan mengetuk kamarnya
Reno.”Ren, buka pintunya nak,ini ibu nak, ibu mau mendengar cerita dari kamu
reno”.”Ibu pergi saja, tidak usah mengurus reno sekarang, Reno sedang muak,
Reno hanya membawa Aib dilkeluarga ini, Reno membunuh Gino, Reno pembunuh” teriak
Reno dari dalam kamarnya. Ibu Rahmi tidak tega dan masuk saja ke kamar reno
yang tidak dikunci itu. Ibunya menghampiri dan tiba tiba Reno menangis,
menangis tersedu, membawa suasana yang tadinya panas menjadi lebih dingin.
“Maafkan Reno bu, Reno tidak membunuhnya, Reno bersumpah bu, Reno ingin
menolong Gino waktu itu, tapi teman teman tetap saja tidak mau mendengar
Reno”.”Iya Reno, ibu percaya kamu nak, ibu sudah lama ingin berbicara tetapi
ibu tidak mau membuat Reno merasa terganggu” kata ibunya yang juga menangis
mendengar perkataan anaknya. “Reno, coba kamu sekarang kembali shalat, kamu
beristighfar dan berserah diri kepada Allah, minta maaf kepada ayahmu, dan
adikmu, soal teman temanmu, ibu sudah berbicara dengan Tita, dan dia mau
membantumu disekolah supaya bisa ceria lagi ren,menjadi Reno yang dulu”,”Iya
bu, terimakasih sudah mau percaya sama Reno ya bu,sekali lagi maafkan Reno
karena sikap Reno akhir akhir ini bu”. Kemudian Reno menjadi lunak, dan ia
meminta maaf kepada ayahnya dan adiknya, dan malam itu, mereka shalat Isya
bersama sama.
Besoknya di sekolah, Reno meminta maaf kepada Tita
karena sikapnya, dan Tita pun membantu sahabatnya itu di sekolah, membuat agar
teman temannya mendengarkan cerita Reno, dan penjelasan Reno. Setelah itu,
teman temannya tidak ada yang memojokkan Reno lagi, mereka sudah mulai baik
dengan Reno, dan Reno yang dulu kembali.
Minggu pagi, di sinari mentari yang tersenyum menatap
kebahagiaan baru bagi Reno, pagi pagi sekali, Reno datang kerumah Tita untuk
menjemput Tita dan berbicara untuk mengucapkan terimakasih. “Ta, makasih ya,
kamu udah mau bantu aku, makasih kamu selama ini tidak memojokkan aku dan mau
mendengar ceritaku, aku harap kamu bakalan selalu ada ya buat aku Ta”.”Iya Reno
sama sama, aku tidak mau kamu berubah ke aarah yang buruk lagi Reno” Tita
tersenyum. “Ta, kamu janji ya, dampingin aku terus, bimbing aku supaya tidak
jatuh ke lautan emosi yang dalam seperti kemarin”,”Reno, kapan aku pernah
ninggalin kamu? Kamu aja yang kemaren kemaren marah marah terus, gak mau
dengarin aku,hahaha, iya aku janji ga akan ninggalin kamu kok, janji kelingking”.
Mereka pun berjanji, hari minggu itu menjadi minggu bahagia bagi Reno